"Tak semua orang tua dapat menjadi guru buat anaknya, dan tak semua guru lihai menjadi guru anaknya sendiri."
"Tak semua orang tua dapat menjadi guru buat anaknya, dan tak semua guru lihai menjadi guru anaknya sendiri."
Mungkin ini agak aneh di dengar di telinga kita. Pada saat seperti sekarang ini semua mengalami, terutama yang masih mempunyai putra dan putri yang masih sekola terutama yang masih duduk di bangku sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama.
Alkisah sebuah cerita yang di dapat pada status yang bernama emak - emak, yang mana suka menggelitik hati untuk tersenyum senyum ketika membaca statusnya tentang pembelajaran jarak jauh.
Ada saja yang terucap ketika mendampingi putra putrinya belajar di rumah. Pernah saya baca betapa ingin rasanya tertawa "biasanya cuma dapur dan sumur, tetiba jadi guru anakku sendiri, bisa ancur deh, dengan emoji 🤣🤣🤣. "
Keadaan yang memaksa kita untuk melakukan semua itu. Pengalaman pribadi, saya mempunyai seorang putri yang berusia 5 tahun 9 bulan yang bernama Aluna. Seperti emak emak yang lain, sayapun harus ekstra mendampingi Aluna yang baru masuk kelas 1 SD. Dan itu membuat saya kembali pada 20 tahun yang lalu ketika saya mengajar di SD Negeri yang mana pernah mengajar kelas satu dan kelas dua. Teringat seorang anak yang selalu ingin d tunggui ibunya ketika di kelas. Bahkan sudah hampir 1 bulan sang ibu menunggui d kelas, yang lama lama muncul perasaan tidak enak. Naah... pada akhirnya sang anak harus ditinggal dan belajar tanpa di tunggui ibunya. Ketika ibunya pulang sang anak tak mau belajar dan hanya duduk di bawah meja sambil terisak isak. Pada waktu itu usiaku masih 30 an jadi dengan penuh kesabaran kuraih anak itu dan ku gendong sambil membimbing anak anak yang lain untuk membaca dan menulis. Dan akhirnya keesokan harinya dia tidak mau di tunggui ibunya lagi. Dan apa yang saya alami sekarang ketika Aluna bersekolah dengan PJJ di masa darurat ini sungguh berbeda, ketika di ingatkan oleh saya, bahwa Aluna sekolah dirumah dan harus mengerjakan tugas tugas dari gurunya. Dan apa yang di katakannya? Ibu... aluna bukan sekolah, kalau sekolah itu belajarnya d ajari bu guru bukan ibu...
Mungkin ini agak aneh di dengar di telinga kita. Pada saat seperti sekarang ini semua mengalami, terutama yang masih mempunyai putra dan putri yang masih sekola terutama yang masih duduk di bangku sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama.
Alkisah sebuah cerita yang di dapat pada status yang bernama emak - emak, yang mana suka menggelitik hati untuk tersenyum senyum ketika membaca statusnya tentang pembelajaran jarak jauh.
Keadaan yang memaksa kita untuk melakukan semua itu. Pengalaman pribadi, saya mempunyai seorang putri yang berusia 5 tahun 9 bulan yang bernama Aluna. Seperti emak emak yang lain, sayapun harus ekstra mendampingi Aluna yang baru masuk kelas 1 SD. Dan itu membuat saya kembali pada 20 tahun yang lalu ketika saya mengajar di SD Negeri yang mana pernah mengajar kelas satu dan kelas dua. Teringat seorang anak yang selalu ingin d tunggui ibunya ketika di kelas. Bahkan sudah hampir 1 bulan sang ibu menunggui d kelas, yang lama lama muncul perasaan tidak enak. Naah... pada akhirnya sang anak harus ditinggal dan belajar tanpa di tunggui ibunya. Ketika ibunya pulang sang anak tak mau belajar dan hanya duduk di bawah meja sambil terisak isak. Pada waktu itu usiaku masih 30 an jadi dengan penuh kesabaran kuraih anak itu dan ku gendong sambil membimbing anak anak yang lain untuk membaca dan menulis. Dan akhirnya keesokan harinya dia tidak mau di tunggui ibunya lagi. Dan apa yang saya alami sekarang ketika Aluna bersekolah dengan PJJ di masa darurat ini sungguh berbeda, ketika di ingatkan oleh saya, bahwa Aluna sekolah dirumah dan harus mengerjakan tugas tugas dari gurunya. Dan apa yang di katakannya? Ibu... aluna bukan sekolah, kalau sekolah itu belajarnya d ajari bu guru bukan ibu...
Sungguh di luar dugaan bahwa, mungkin karena jenuh di rumah terus.
Tak semua guru lihai mengajar, ketika menjadi
guru anaknya sendiri.
Semoga keadaan ini segera membaik dan anak anak dapat belajar dengan guru dan teman temanya di sekolah. Riuhnya sekolah ke betika anak anak ketika belajar, yang sekarang seolah menjadi tempat semedi. Suara riuhnya anak anak itu bagaikan nyanyian yang dirindukan. Biarkan sekolah kembali riuh dengsn canda tawa anak anak yang menggembleng mental serta mengasah otak ahar kelas menjadi penerus yang tangguh. Lekaslah pergi corona virus, biarkan kami berekspresi untuk menyiapkan dan mentak penerus pemimpin negeri.
Bersabarlah emak emak...
Ekspresikan diri menjadi guru bagi putra putrinya pada masa darurat ini.
Tetap semangat
Agustus akhir
Komentar
Posting Komentar